Feeds:
Posts
Comments

Log On Message

Saat anda menggunakan Windows sering kali muncul pesan-pesan dalam jendela. Kita juga bisa memunculkan pesan ketika login ke Windows XP yang berisi aturan-aturan tertentu untuk user lain yang menggunakan komputer anda. Seperti biasa, hal ini juga dilakukan melalui utak-atik registry.

Pertama-tama, mulailah dengan membuka registry editor lewat start menu, pilih run, ketik regidit, lalu tekan enter atau klik OK.

Pilih HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\WinLog.

Cari value LegalNoticeCaption, ketik dua kali, ganti value data dengan text apa saja. Nantinya text ini akan menjadi judul pada pesan anda, klik OK atau tekan enter.

Cari value LegalNoticeText, klik dua kali, ganti value data dengan text apa saja. Text ini akan menjadi isi dari pesan. Klik ok atau tekan enter.

Keluar dari registry editor.

Dengan ini pesan yang anda buat akan muncul pada saat log on. Untuk mengujinya anda tentu harus log off terlebih dahulu. Jika ingin mehgilangkan pesan log on ini, anda tinggal menghapus value data dari value LegalNoticeCaption dan LegalNoticeText.

Advertisements

No Folder Options

Folder options sering dipakai untuk mengatur tampilan file dan folder pada windows explorer. Opsi folder options bisa dihilangkan untuk mencegah tangan-tangan iseng yang suka mengutak-atik komputer anda. Untuk melakukannya bisa dengan sedikit pengaturan registry.

Pertama-tama, mulailah dengan membuka registry editor lewat start menu, pilih run, ketik regidit, lalu tekan enter atau klik OK.

Pilih key HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer.

Pada panel kanan, klik kanan pada area kosong, pilih new, pilih DWORD value.

Beri nama value baru tersebut dengan mengetik NoFolderOptions, tekan enter.

Edit value NoFolderOptions dengan klik dua kali, pada pilihan value data isi dengan nilai 1, tekan enter atau klik OK.

Tutup registry editor.

Selesai sudah. Semestinya opsi folder options sudah hilang dari menubar anda. Kalau masih ada, log off dari windows dan login kembali.
Jika ingin memunculkannya kembali, cukup dengan mengganti value datanya menjadi nilai 0 atau dengan menghapus value NoFolderOption. Log off dari windows dan kembali login. Pastinya kondisi kembali ke keadaan semula.
Selamat mencoba….^^

Normalisasi

Sejak belajar Sistem Basis Data, saya masih nggak mudeng sama yang namanya normalisasi. Pernah pun sempat mengerti dengan belajar sendiri lewat buku perpustakaan, namun dengan penyakit langganan saya yang namanya "LUPA", seringkali kewalahan kalau berurusan dengan yang namanya normalisasi ini. Kabar baiknya saat beberapa hari lalu saya pergi ke perpustakaan lagi dan berniat untuk meminjam buku tentang database. Alhamdulillah, walaupun otak pas-pasan model kayak saya, tapi bisa ngerti beberapa materi yang diajarakan di buku ini. Saat tiba di bagian yang membahas normalisasi, terbesit pikiran, "daripada lupa lagi, lebih baik saya posting di blog". Well, nggak banyak cuap-cuap lagi, saya persembahkan, "normalisasi" versi saya.

 

Normalisasi diperlukan untuk verifikasi apakah suatu tabel akan memiliki ketidak-konsistenan data atau masalah tertentu ketika misalnya data diperbaharui atau dihapus. aturan-aturan normalisasi dinyatakan dalam bentuk normal dan bentuk normal yang biasa dipakai adalah bentuk pertama (1NF), bentuk kedua(2NF), bentuk ketiga(3NF). ntuk bentuk 4NF dan 5NF digunakan untuk kasus khusus.

 

Bentuk Normal Pertama

Contoh kasus tabel berbentuk (kode_buku, judul, halaman, topik).

Sebuah buku tentunya bisa saja memiliki lebih dari satu topik. Untuk kasus ini kadang kali diselesaikan dengan mengubah bentuk tabel menjadi :

(kode_buku, judul, halaman, topik1, topik2, topik3)

Desain ini merupakan desain yang parah. Di sini diasumsikan bahwa buku memiliki maksimal 3 topik. Bagaimana jika nanti muncul buku yang ternyata topiknya lebih dari 3? Atau lebih parah lagi jika ada buku yang hanya memiliki 1 topik. Hal ini akan mengakibatkan kolom topik2 dan topik3 terbuang sia-sia.
Kasus ini dapat diselesaikan dengan bentuk normal pertama. Definisi bentuk normal pertama sebagai berikut.

Suatu tabel dikatakan dalam bentuk normal pertama hanya jika setiap kolom bernilai tunggal untuk setiap baris.

Berdasarkan definisi tersebut, maka bentuk

(kode_buku, judul, halaman, topik1, topik2, topik3)

harus dirubah menjadi

(kode_buku, judul, halaman, topik)

Informasi tentang topik cukup diwakili oleh satu kolom saja. Dengan begini, masalah tentang kelebihan ataupun kekurangan topik dapat diselesaikan.

 

Bentuk Normal kedua

Definisinya sebagai berikut.

Suatu tabel berada dalam bentuk normal kedua jika :

  • tabel dalam bentuk normal pertama
  • semua kolom buka kunci primer(primary key) tergantung sepenuhnya terhadap kunci primer.

Kunci primer pada bentuk ini adalah kode_buku. Arti "bergantung sepenuhnya terhadap kunci primer" adalah suatu kolom selalu bernilai sama untuk kunci primer yang sama. Oleh karena itu, yang disebut bergantung sepenuhnya terhadap kode_buku adalah judul dan halaman.

Dengan analisis seperti ini, semua kolom yang bergantung penuh pada kunci primer disatukan dalam suatu tabel. Untuk kolom yang tidak memenuhi syarat diletakkan pada tabel lain dengan menambahkan kunci primer pada tabel tersebut. Maka, tabel sebelumnya dengan susunan :

(kode_buku, judul, halaman, topik)

dipecah menjadi :

(kode_buku, judul, halaman) dan (kode_buku, topik)

Lebih khusus lagi, tabel (kode_buku, topik) dipecah lagi menjadi :

(kode_buku, topik) dan (id_topik, nama_topik)

Untuk menghindari ketidak-konsistenan ketika suatu data topik diubah.

 

Bentuk Normal Ketiga

Definisinya adalah sebagai berikut.

Suatu tabel dikatakan dalam bentuk normal ketiga jika :

  • berada dalam bentuk normal kedua
  • setiap kolom bukan kunci primer tidak memiliki ketergantungan secara transitif terhadap kunci primer.

Dengan contoh suatu tabel (A, B, C) perlu diketahui :

  • jika B bergantung terhadap A, maka B disebut memiliki ketergantungan secara fungsional terhadap A.
  • jika C bergantung terhadap B, maka C disebut memiliki ketergantungan secara fungsional terhadap B dan ketergantungan secara transitif terhadap A.

Contoh kasus untuk kali ini pada tabel buku dengan kolom-kolom sebagai berikut.

Buku=(kode_buku, judul, halaman, penerbit, lokasi_penerbit)

Jelas sudah bahwa lokasi_penerbit memiliki ketergantungan transitif terhadap kode_buku, karena lokasi_penerbit memiliki ketergantungan fungsional terhadap penerbit yang memiliki ketergantungan fungsional terhadap kode_buku. Untuk mempermudah pembentukan normal ketiga, bisa digunakan pendekatan sebagai berikut :

Tabel =(a, b, c, d, e) dengan a sebagai kunci primer

e tergantung fungsional terhadap d dan d tergantung fungsional terhadap a. Berarti e bergantung transitif terhadap a. Maka tabel ini perlu dipecah menjadi :

Tabel1=(a, b, c, d)

Tabel2=(d, e)

Dengan pendekatan diatas, maka contoh tabel buku perlu dipecah menjadi :

Buku1=(kode_buku, judul, halaman, penerbit)

Buku2=(penerbit, lokasi_penerbit)

Lebih khusus lagi, untuk menghindari ketidak-konsistenan, penerbit harus dikodekan menjadi id_penerbit agar jika terjadi perubahan pada nama penerbit, maka perubahan cukup dilakukan sekali saja. Maka, tabel hasil akhir menjadi :

Buku1=(kode_buku, judul, halaman, id_penerbit)

Buku2=(id_penerbit, penerbit, lokasi_penerbit)

 

Huff! Akhirnya selesai juga. Sayangnya di buku ini hanya menjelaskan sampai bentuk normal ketiga saja dan saya belum paham untuk bentuk 4NF dan bentuk 5NF. Jadinya penjelasan cuma bisa sampai bentuk 3NF. Untuk kelanjutannya, saya harus belajar lagi terlebih dahulu atau mungkin para guest sekalian bisa ikut menyumbang juga. Hehehehe…

Super Hidden

Salah satu fasilitas di Windows XP adalah super hidden. Super hidden memungkinkan file-file penting dalam windows tidak terlihat. Berbeda dengan file beratribut hidden, file dengan atribut super hidden tidak dapat terlihat oleh user walaupun anda telah mengaktifkan fitur untuk melihat file beratribut hidden. Hal ini bertujuan untuk mencegah user melakukan penghapusan atau pengubahan pada file tersebut yang dapat mengakibatkan windows menjadi rusak.
Tujuan baik ini dimanfaatkan oleh pembuat virus untuk membuat virusnya memiliki atribut super hidden. Akibatnya, virus dapat menyerang komputer tanpa sepengetahuan pemilik komputer. Hal ini kadang membuat orang berpikir bahwa akan lebih baik kalau mereka dapat melihat semua file beratribut super hidden. Hal ini bisa dilakukan juga di windows. Berikut langkah-langkah untuk melihat file-file super hidden.

Di menu bar, pilih tools -> folder option… -> pilih tab view
Di frame advanced settings,
Ganti pilihan pada “hidden files and folders” menjadi “show hidden files and folders” agar file hidden dapat terlihat.
Kosongkan pula tanda cek “hide protected operating system files (recommended)” untuk menampilkan file-file yang beratribut super hidden.

Selain melalui menu bar, untuk melihat file super hidden juga bisa  dilakukan merubah regisrty. Namun cara yang satu ini sangat beresiko karena jika anda melakukan sembarang perubahan pada registry bisa berakibat fatal pada windows anda.
Pertama-tama, buka registry editor dengan cara membuka start menu, pilih run, ketikkan regedit, tekan enter. Jendela regisrty edior akan terbuka lalu lakukan hal-hal berikut.

Masuklah ke:
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\Curr entVersion\ Explorer\Advanced\Folder\Hidden\NOHIDDEN
rubah angka di CheckedValue menjadi angka 2
rubah angka di DefaultValue menjadi angka 2

Masuk lagi ke:
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\Curr entVersion\ Explorer\Advanced\Folder\Hidden\SHOWALL
rubah angka di CheckedValue menjadi angka 1
rubah angka di DefaultValue menjadi angka 2
Ini bertujuan untuk menampilkan file yang hidden.

Satu lagi untuk menampilkan file system yang disuper hidden.
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\Curr entVersion\ Explorer\Advanced\Folder\SuperHidden
rubah angka di CheckedValue menjadi angka 0
rubah angka di DefaultValue menjadi angka 0
rubah angka di UncheckedValue menjadi angka 1

Setelah itu, tutup program registry editor. Seharusnya sekarang anda sudah bisa melihat file-file super hidden tersebut.